Rabu, 23 Mei 2012

Cinta Dibalik Jarak

Malam ini kucoba tuk tuangkan isi hati ini lewat satu tulisan.. 
Sulit menuangkan semua ini dalam perkataan...
Awalnya kita hanya sekedar ingin bersandiwara dalam pertemanan..
Namun tanpa disadari sandiwara tlah membawa kita pada satu cerita kenyataan...
(^__^)Sejak engkau hadir dalam kehidupan ku..
Suasana yang tadinya hitam kecoklatan, kau ubah menjadi putih abu-abu..
dirimu menyejukkan hati yang berambisi...
saat harapan ingin beranjak  pergi...
Jauh mata memandang bulan dibalik awan..Senyuman takluk di taburan bintang..
Sempurna mewarnai kehidupan..
Mata batin yang tadinya telah lemah melangkah..
Kini berubah menjadi semangat yang kian membara..
Menenggelamkan jutaan pandang..
Pada satu titik kata kekang...
Terhanyut pada kelembutan....
Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku..
Kini aku menyadari kalau dirimu memiliki asa sepertiku..
Malam telah menghanyutkan jiwa....
Menjenguk rindu yang menggebu....
Kenyataan lahirkan kesadaran...
Menghalau keraguan,,,,
Saat ini kita menuai cinta...
Maka biarkanlah waktu berjalan...
Apa adanya............

Selasa, 22 Mei 2012

Kata Hati Yang Salah

Roy dan feby adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga feby berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga roy hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan....

Dalam kehidupan mereka Roy sangatlah mencintai feby, tiap hari roy sering menyapa dan memberikan ucapan salam kepada feby walau hanya sekedar sapaan biasa.. dan feby slalu menyimpan setiap pesan yg dikirim roy di hp kesayangannya, dan bahkan feby sering menulis kata-kata nya itu di sbuah kertas dan menempelnya di stiap dinding kamar kesayangannya, banyak skali harapan yg tlah roy ungkapkan kepada feby.
”Semoga Tuhan melindungi feby dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam stiap kertas yang menempel di dinding kesayangannya itu..

suatu hari roy mengirim pesan singkat kepada feby untuk yang keseratus , atau bahkan untuk yang keribuan kalinya, roy sudah tidak hapal lagi karna sangkin banyaknya sms yang sudah ia kirimkan.. tapi kali ini pesannya sangat berbeda, roy tidak mengirim pesannya itu lewat sms seperti biasanya, dia menuliskannya di dalam kertas dan melipatnya seperti bentuk amplop, roy berkata kepada feby..

“feby,ini ada surat untukmu. Dalam  kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengarroy berkata demikian, menangislah feby. Ia berkata kepada roy:

“roy, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”

Saat mendengar itu roy pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada feby. Ia mengatai  feby matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Dan Akhirnya roy meninggalkan feby menangis seorang diri..

roy mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap feby dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha roy menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpunyang  tak kenal roy, ia adalah bintang kesuksesan.


Suatu hari roy pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. roy pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua feby.

roy mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. roy membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua feby.

roy sangat terkejut ketika didapati orang tua feby memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan  kertas yang berisi sms  singkat yang pernah ditulis oleh mereka berdua . Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto feby dalam makam itu.roy pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam feby untuk menemui orang tua feby.
Orang tua feby pun berkata kepada roy:”Roy, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan feby yang terkena kanker rahim ganas. feby menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”

orangtua feby menyerahkan sepucuk surat kepada roy..
dia pun membaca surat itu.

“Roy, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu roy, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu roy……….. “
Setelah membaca surat itu, menangislah roy. Ia telah berprasangka terhadap feby begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati feby teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa feby kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa feby mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap feby sebagai orang matre tak berperasan.feby telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran...

Kisah Kehidupan

Sebelum para pecinta dunia cerita membaca kisah di bawah ini, silahkan putar lagu instrument dan cobalah untuk fokus dan tidak memikirkan yang lain selama pembaca sedang menikmati kisah ini...
kali ini aku dikisahkan sebagai wanita, dan memiliki seorang adik laki-laki, selamat menikmati kisah nya yah...

==================================================

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil, jauh dari hiruk pikuk transportasi dan kendaraan. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah jaket tebal dan cantik yang mana semua teman  di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri beberapa lembar kertas ribuan dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”


Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,  hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku , kami bertiga saling berpelukan untuk saling melindungi.. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya berkeluh kesah dengan ibu, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku sudah cukup untuk membaca buku.. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”


Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini. Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak iparr,,,, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan jaket kesayanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai baju biasa dan berjalan sejauh ituuuu... Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran badannya pucat membiru, karena hujan dan cuaca yg begitu dingin  sampai ia tidak dapat memegang sendoknya...
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Nilai Kehidupan


Kring...Kringg.....alarm berbunyi membangunkanku dari dunia ilusi, tak terasa ternyata sudah jam 06.35, aku langsung teringat akan tanggal.. yah hari ini adalah hari dimana aku dan teman-teman SMA ku akan mengadakan reuni di sekolah , hampir 15 tahun lamanya kami tidak bisa berkumpul bersama, duduk, bercanda ria bak seorang remaja..
kusempatkan diri untuk melihat ruangan sudut kamar ini sambil memandangi istriku yang lelap tertidur, lama aku merenung untuk mengingat masa SMA ku..

Tiba-tiba istriku bergeser sambil berkata "hhhooaaammmm" kenapa merenung Rey tanya dia kpadaku.. Gak ahk,, cuman menikmati kantuk aja nya sahutku sembari melihat senyumannya yang manis...
uda bangun yah? tanyaku kembali,,, ya udalah skarang kan kita ada acara reunian dengan teman SMA mu sayang jawabnya pelan sambil bergegas duduk  mengangkat tangannya ke atas.. jam brapa acaranya dimulai rey? jam 9 nan lah sahutku lagi sambil berjalan menuju keluar dari dalam kamar..

sekedar pemberitahuan,, aku adalah Rey pemuda sederhana yang tinggal di daerah dusun tanah jawa, rumah kami juga sederhana yang hanya diisi oleh perkakas tua pemberian keluarga ibuku yang tak juga jauh tinggal dari rumah kami...dearni adalah istriku sekaligus teman satu angkatanku , namun dia berbeda sekolah denganku, dia juga adalah teman-teman satu SMA ku dulu, jadi dia dan aku dikenal dekat oleh hampir semua teman-teman satu angkatanku...hhhooaaammmmsss,,,, mandilah sana?? aku mau beresin tempat tidur ini, nantti kalau kita kelamaan berangkat bisa ketinggalan angkot,,, sapa istriku sambil memutar acara radio pagi..singkat cerita jam sudah menunjukkan angka 9, aku dan istriku pun sudah siap berangkat ke sekolah dimana tempat kami reunian,,,

namun sesampainya di sekolah, perlahan aku mulai ragu untuk melangkahkan kaki ini. Rasanya ingin aku menghilang dari tempat ini. ingin aku menutup wajahku dan berlari menjauh. namun istriku terlihat begitu santai dengan ini semua. istriku sama sekali tidak mempedulikan tatapan mata mereka semua. Walaupun mereka semua adalah sahabat SMA kami dulu, namun tatapan mereka padaku telah berubah.

Wajar saja, ini adalah reuni SMA kami setelah 15 tahun. Sahabatku semua sudah berubah .wajar saja istriku juga dikenali temanku karna dia sering aku ajak ke sekolahku sewaktu kami pacaran dulu,,  kami berdua menghadiri reunian ini dan berharap bisa bernostalgia dengan masa-masa SMA dulu. Namun semua berbeda dari apa yang aku harapkan...

"Re, apa kabarmu?, dimana kau bekerja?" kata dian seraya menepuk bahuku.
"em, aku melanjutkan sawah ayahku sekaligus jagain warnet teanggaku" kataku...
"hahaha. Hebat. Kalau begitu kau harus konsultasi dengan saut dan tuntun. Mereka itu sarjana pertanian dan sarja komputer." Kata dian terlihat bersemangat menunjuk mereka..


"……." Aku diam.

"dengar-dengar dia ingin mengambil gelar doktor di jurusan itu. Yaah, mungkin tidak ingin kalah dariku. hahaha" kata dian melanjutkan. Aku semakin membisu.,,

Mengapa mereka semua membicarakan hal-hal seperti ini?. Aku pikir reuni ini untuk mengenang kembali masa-masa dulu. Aku pikir reuni ini untuk melepaskan rasa rindu pada kenangan masa dulu. Mengapa mereka membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti?. Mengapa aku merasa terasing disini?.


Ruangan ini terlalu dipenuhi oleh kemewahan. Masing-masing sahabatku telah menjadi orang yang sukses. Sementara aku dan istriku hanyalah dua orang dari keluarga yang sederhana. Kami berdua menikah setelah lulus SMA dan tidak melanjutkan pendidikan seperti sahabat-sahabatku yang lain.


Aku memperhatikan wajah istriku dari kejauhan. Wajahnya ceria, sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Mengapa aku tidak bisa seperti dia?, ceria dan percaya diri menghadapi teman-temanku. Apakah karena aku memperhatikan baju istriku yang mulai terlihat kusam. Itu adalah satu-satunya baju yang bagus miliknya. Itu aku belikan 15 tahun yang lalu saat acara ulang tahunnya..

Semakin minder aku melihat teman-teman wanitanya yang kini terlihat modis dan anggun dengan perhiasan yang melingkar di jemari dan tangan mereka. Sementara istriku hanya memiliki satu cincin emas yang aku belikan saat pernikahan 16 tahun yang lalu. Melihat pakaiannya yang kusam, ingin rasanya aku menangis...

Aku berjalan mendekatinya dengan gemetar. Aku akan mengajaknya pergi dari ruangan yang membuat aku sesak ini. Aku merasa telah gagal menjadi suami yang bisa memberikan kebahagiaan padanya. Aku harus mengajaknya pergi sebelum dia menyadari, hanya kami berdua yang terlihat kumuh disini.

"Dearni, lihatlah ini. Pacarku membelikan tas ini saat dia pulang dari Perancis. Kau tahu?. Harganya ini sama dengan seratus tas biasa disini." Kata Ellen berbicara pada istriku. "ohh, kau Andrey kan?, kau suami Dearni kan?" tanya Ellen.

"iya" jawabku singkat. Aku kemudian menatap dearni dan menggangukkan kepala mengajaknya pergi. Tapi dearni, Istriku hanya tersenyum. Dia lalu melanjutkan perbincangannya dengan Ellen.

"iya len, tasmu bagus" kata istriku sambil tersenyum.
"Gimana, kamu ingin membeli tas yang seperti ini?" tanya Ellen menggebu.
"hehe, Nggak usah. Tasku ini sudah cukup mewah" kata istriku.
"mewah?, itukan hanya tas yang harganya biasa?" tanya Ellen meremehkan.
"mungkin tak berharga, tapi nilainya untukku sangat berarti" kata istriku.
"Nilai?" tanya Ellen bingung.

"Benar. Ini adalah hadiah pernikahan yang diberikan suamiku. Dan nilainya tidak bisa di beli oleh uang berapapun." Kata Istriku seraya memeluk lenganku. April diam seribu bahasa, lalu berlalu pergi dengan senyuman sinis.

Dadaku bergetar hebat. Aku merasakan bahagia dan haru dalam waktu yang sama. membuatku merasa lebih kuat dan lebih berani jauh dari sebelumnya. Aku merasa sangat bangga dan percaya diri kembali. Kemudian Kami mengikuti acara reunian ini sampai akhir.

***
Saat kami berpisah dengan sahabatku, aku bisa tersenyum seperti dulu. Meski mereka pulang dengan kendaraan mewah, aku tak peduli. Lalu di dalam angkot menuju pulang kerumah, aku bertanya pada istriku.

"kamu serius waktu tadi bicara pada Ellen?" tanyaku.

"tentu saja sayangku. Didunia ini ada hal yang berharga yang mampu dibeli oleh mereka yang punya uang. Namun hal-hal yang bernilai tidak semua orang mampu memilikinya." Kata dia sambil tersenyum.

Aku memegang tangannya. Dia bersandar dibahuku sambil menikmati pemandangan lewat kaca angkot yang buram. Saat ini aku benar-benar bahagia. Namun aku juga berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat istriku ini bahagia. Aku berjanji akan mengisi kehidupanya dengan hal-hal yang jauh lebih bernilai dan berharga.

Aku lama memperhatikan wajahnya yang cantik. Ku eratkan genggaman tanganku. aku meneteskan bulir air mata bahagia. Lalu aku berkata dalam hati
"ya tuhan, terimakasih kau telah mengizinkan aku menjadi pendamping wanita yang sederhana ini. Sungguh, aku benar-benar mencintai wanita ini."

Kritikus Sejati


Di suatu sisi, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan atau dengan kata lain "Dehumanisasi" diakibatkan oleh sebuah belenggu-belenggu, norma-norma, dan budaya palsu.
Pada akhirnya manusia, kehilangan identitas dirinya sebagai manusia yang bebas dan merdeka..MAnusia menjadi pemangsa bagi manusia yang lain.
Mimpi-mimpi yang menghanyutkan terus menyebar racun hingga ke GENERASI tanpa batas..Pada akhirnya mengkaburkan realitas yang ada .
Doktrinisasi negara tlah menghancurkan watak anak bangsa ini, buruh, petani, kehilangan alat produksinya..SEMENTARA pemuda menjadi KOMODITAS penguasa...
Dibangun dalam watak-watak yang militeristik dan konsumeristik..Perempuan juga dijadikan BARANG dagangan yang dilegalisasi oleh negara dan struktur matangnya..
Pendidikan yang sifat dasarnya adalah untuk membebaskan dan memerdekakan manusia, berubah fungsi menjadi alat LEGALISASI, KEKERASAN dan alat untuk merubah watak manusia menjadi budak-budak PENGAGUM KEKUASAAN..
Nilai-nilai kemanusiaan telah terdistorsi oleh sebuah sistem yang begitu rapi dan mapan. DENGAN SLOGAN KEMAPANAN BERUBAH FUNGSI MENJADI MERAH DAN PUTIH..Kekerasan slalu dilegalkan oleh sistem yang berwujud TOPENG-TOPENG DEMOKRASI..

Masa SMA Sungguh Tak Tergantikan


Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala”

“Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa”(Semua tetang kita, Peter Pan)

Ketika ditanya tentang kesan seseorang mengenai masa-masa SMA nya, mungkin kebanyakan jawaban yang timbul adalah : “Menarik”, “tak terlupakan”, “wah,,,masa-masa indah…” dan banyaaak versi ungkapan-ungkapan yang muncul sesuai dengan latar belakang pengalaman dan kisah yang berbeda.

Namun semuanya sepakat, bahwa SMA adalah masa-masa yang tak terlupakan. Dan itu memang benar adanya.

Dahulu, ketika langkah-langkah polos kita mulai menapaki rajutan hari-hari di SMA, tak pernah terpikirkan bahwa tiap detik yang kita lalui saat itu, kelak akan menjadi hal-hal yang akan sangat kita rindukan pada 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang.

Setiap jengkal kejadian, baik itu kisah sedih, menyenangkan, pahit, manis, memalukan adalah hal-hal yang menarik untuk diceritakan KELAK ketika kita sudah tidak bisa lagi melalui semua penngalaman itu.

Siapa sangka, pengalaman ketika dimarahi senior pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat membuat kita kesal, sekarang kalau difikir-fikir malah membuat kita tertawa sendiri.

Siapa sangka, ketika pikiran polos kita sudah terkontaminasi dengan keinginan bolos, cabut, nyontek, suka membantah perkataan guru, yang ujung-ujungnya adalah Skors, dihukum, kena marah…(ahh, menyakitkan memang), tetapi semua itu sekarang bak sebuah kisah manis yang sangat seru untuk diceritakan,,

Atau pengalaman ketika menjadi seorang bintang kelas, aktifis sekolah, ikut berbagai kegiatan dan perlombaan,,,telah meninggalkan seraut kebanggan di memory-memory otak kita.

Sebentuk persahabatan sejatipun telah kita bina di indahnya masa-masa SMA. Teman yang bukan hanya sekedar pelepas tawa, namun juga hadir di kala kita berduka, yang bersedia menyediakan pundaknya ketika kita butuh sandaran. Bahkan menjadi teman seperjuangan yang turut andil dalam meramaikan jagat kenakalan-kenalakan remaja yang kita lakukan. Bahu membahu ketika cabut,memanjat pagar, merokok di lingkungan sekolah, membuat PR di kelas,ketika ujian, dan lain sebagainya.Kemana lagi akan kita cari sahabat seperti itu selepas masa-masa SMA???

Dan, sekelompok orang tua kedua yang kita panggil dengan sebutan “Bapak” dan “Ibu” GURU itu… Kasih sayang dan jasanya kepada kita sungguh luar biasa. Hmmmm…walaupun terkadang kita mengikuti pelajaran beliau dengan adegan tambahan “terkantuk-kantuk”, diiringi rasa bosan, jenuh, bahkan lebih ekstrimnya lagi kita meninggalkan beliau yang dengan kesungguhannya sedang mengajar, untuk sekedar nongkrong di kantin,ngaso di perpus, tidur-tiduran di Mushala, atau nekat pulang ke rumah dan gak balik-balik lagi ke sekolah (sinonimnya CABUT)

Jika seorang pemikir ulung mengatakan bahwa ”future is’nt to be found, but to created” mungkin itu benar adanya. Dan tahukah kawan, secara tidak langsung, masa-masa SMA merupakan bagian dan langkah untuk kita mencapai kondisi seperti saat ini. Masa-masa SMA turut berkontribusi untuk menciptakan ”kita” yang seperti ini.

Maka patutlah rasanya jika kita mengucapan terimakasih kepada guru, sahabat, semua civitas dari SMA, yang turut andil mewarnai kehidupan kita dengan hitam, putih, merah, birunya dunia.

Klise memang, namun begitulah adanya. Sepahit, seburuk, semanis apapun kenangan itu, kenangan tinggalllah kenangan… dan setiap kenangan itu tak kan pernah terulang persis sama seperti dahulu…Namun ada satu teori konsep kenangan yang sepertinya harus kita sepakati, bahwa; kenangan bukanlah untuk dilupakan…Biarkan menjadi sebentuk kisah, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN… Sebuah kisah klasik yang akan kita ceritakan kepada anak, cucu kita kelak.

***Andai ada satu hariiiiiiiiiiiii saja untukku dapat mengulang kembali indahnya masa SMA, duduk tenang di dalam ruangan kelas, berseragam putih abu-abu, mendengarkan ceramah guru di depan, membuat berbagai tugas, PR, bercanda ria dengan teman, ke kantin bareng, gila-gilaan bareng…

Hmmmm….andai itu benar-benar terjadi. Tapi kutahu itu semua hanya mimpi. Tidak mungkin bisa benar-benar mengulang kembali…

Tuhan, jika memang begitu, jangan hapus memory-memory itu. Biarlah tersimpan abadi di otakku, agar aku bisa mereplay ulang kembali semua peristiwa indah itu… Kisah yang terukir indah di bawah naungan acasiaku…

”Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kail, kita berbincang, tentang memory di masa itu,,,Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku, kita terharu seakan tiada bertemu lagi. Bersenang-senanglah, karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah KISAH KLASIK tuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang kan kita banggakan, di hari tua…..Sampai jumpa kawanku..Semoga kita selalu,,Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan….Mungkin diriku, masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku, masih haus sanjungan kalian”(Kisah klasik untuk masa depan, by; Sheila on 7)

Teruntuk; Semua alumni yang paham apa arti sebuah kenangan

Special thanks and best regard for all of smansa siantar and T.jawa teachers

My beloved Friends: tuntun siallagan, jose yang udah tak tau dimana kabarnya

And all of the senior, junior that I have ever met

Thanks God, I was met with them!!!

Senin, 19 April 2010

Seputar Kampus


 
Jalanilah - hidup - ini -dengan - apa - adanya